SETIAP daerah, pasti punya bahasa slank masing-masing. Menariknya, bagi perantauan, bahasa itu akan menjadi menggelikan ketika ketemu dengan kawan satu daerahnya. Di Semarang, ada beberapa bahasa yang terdengar lucu, tapi ngangenin. Dan diakui atau tidak, itulah yang menyatukan rasa “SEMARANGAN” itu. Inilah beberapa diantaranya.
+++
Asem ki, Asem ik : umpatan tentang sesuatu yang tidak diharapkan
Atis : berarti dingin untuk minuman atau sejuk untuk hawa
Bak-buk: artinya Impas, Aku ngilangke motormu, saiki kowe ngrusaakke laptopku… wis to … bak-buk to. Artinya Aku ngilangin motormu, kamu ngrusak laptop ku ya udah, impas.
Blaik : suatu ungkapan tentang kekagetan
Bentengan: sejenis permainan kejar-kejaran anak, di daerah lain ada yang bernama jek-jekan
Benthik: sejenis permainan anak, di daerah lain ada yang menamakannya Pathil Lele
Brom pit : artinya sepeda motor
Congyang: sejenis minuman keras khas Semarang
Ceng ceng po: berarti teman kental
Ciamik: sesuatu yang artinya mirip dengan hebât
Ciak: artinya makan
Ciblek: Cilik-cilik betah Melek, istilah untuk kupu-kupu malam ABG
Coa: artinya ngomong besar, rasah coa kowe
Coa-Coa: menggosip, ngomong membesarkan/ menyebarkan isu atau fitnah.
Datsu: sejenis angkutan kota, aslinya merupakan kependeka dari merk kendaraan Daihatsu
Denok: mbak, gadis dewasa
Denyom: berarti perempuan, atau gadis
Gali: artinya preman pasar
Galap: artinya balap, pit galap artinya sepeda balap…
Gentho: Orang yang memegang suatu kawasan.
Genjot, mengayuh, tapi perhatikan konotasi lainnya : digenjot = dipukuli tanpa ampun
Gilo-Gilo, penjual aneka jajanan pasar yang didorong dengan gerobak dorong.
Gondes, berarti Geblek (lebih halus dari goblog), namun konotasinya lebih berarti kepala batu, atau keras kepala, atau ‘yidak bisa dibilangi atau dinasehati’ Secara nasional, akhirnya menjadi akronim dari Gondrong Ndeso.
Gombal Mukiyo, artinya ngomong gombal alias bohong
He eh, Iya atau mengiyakan
…. ik, akhiran yang menegaskan tentang sesuatu, misal: asem, malah lungo ‘ik
Ita-itu, berbuat macam macam… ra mang ita itu kowe= jangan macam-macam
Jes, semacam Toss, khas semarang
Jeng-jeng, artinya jalan-jalan, contoh,wah nek ngono kudu “jeng-jeng” (jalan-jalan) neng nJohar
Jogjig, kendaraan untuk menghaluskan jalan yang sedang diaspal. Bisanya disebut Selender.
Kakeane, artinya semacam makian yang artinya sialan
Kas, Panggilan sapaan akrab
Kecelik, tertipu
Kemaki, artinya sombong, besar kepala
Kemlinthi, artinya tengil, nakal dan nyebelin. Gayane kemlinthi, gayanya tengil
Kempling, mengkilat, seperti baru
Kenang, Mas, Perjaka Dewasa
Kenthip, berarti jauh banget
Klowor, artinya nggak rapih. Biasanya digunakan untuk cara berpakaian.
Kongkow, berarti nongkrong. Bahasa Indonesia juga tapi sangat familiar digunakan orang Semarang
Koplak, berarti goblog atau bodoh (di TVB jadi acara yang singkatannya Komedi asal njeplak — (tambahan dari pak Ahmad, Koplak juga berarti jabatan Koordinator Pelaksana, lihat reply di bawah)
Koya, berarti banyak omong tapi gak berani berbuat seperti yang diomongkan (yah semavam Jarkoni, wani ujar ra wani nglakoni) Kota-kota, berarti jalan-jalan ke kota.
Krenyeh, artinya kualitas rendah untuk suatu barang, bisa disamakan dengan ecek-ecek.
Lheb, berarti hebat dan ok, kadang ditekankan jadi Lheb ghodek
Mbeling, berarti nakal atau bandel. Cah mbeling, arinya bocah nakal.
Mbois, gembagus
Mentu, maksudnya metu (keluar)
Mlencing, berarti mengambil barang orang tanpa bayar
Moci, Minum wedang poci, tapi kalo moci di Simpang 5 bisa punya konotasi negatif
Munggah, suatu sebutan untuk menyatakan tujuan ke kota atas, seperti srondol, ngesrep dan Banyumanik.
Mudun, sebutan orang yang tinggal di Candi, Banyumanik, maupun Srondol yang mau ke kota.
Nas, semacam pause atau time out untuk permainan anak-anak
Nda, sapaan khas semarang, penghalusan dari Ndes
Ndaho, artinya sohor
Ndak Iya, menanyakan ‘Apa iya?’
Ndes, sapaan khas semarang, singkatan dari Gondes
Ndesit, Bentuk halus dari kata umpatan Ndeso. Sebetulnya artinya kampungan atau nggak punya sopan-santun.
NDobol, kurang lebih sama seperti gombal mukiyo, tapi lebih kasar
NDoyong A Jong, Sikap ndoyong yang diperagakan ala Suhu A Jong, jago kungfu jaman dulu dari Semarang.
Ndoyong, sesuatu yang miring atau tidak stabil. Rawan jatuh. Bisa untuk orang (karena mabuk), atau benda.
Ngeleh, sartinya luwe atau lapar
Ngengkrengan, adalah cara orang Semarang untuk menyebut perkiraan biaya. Contoh: Kanggo ngedegake omah aku wis duwe ngengkrengane (Untuk membangun rumah saya sudah punya perkiraan biayanya)
Ngerek, artinya main sinetron silat, Asti Ananta kuwi mulai ngerek jenenge.
Ngentos, artinya menunggu lama sekali. Buah kelapa itu jika sudah tua di dalamnya akan tumbuh biji yang disebut kentos. Ngentos, dari asal kata Kentos. Mbok nganti Ngentos, bis’e ra bakal lewat kene, Wong dalane ditutup. Biar ditunggu sampai lama, bisnya nggak bakal lewat, karena jalannya di tutup.
Nggambus, artinya omong kosong, nggedabrus atau bohong
Nggambleh, artinya ngomong tong kosong tapi sampai berbusa-busa. Lha Mbok nggambleh sak modare ra bakal dirungokne, biar omong sampai berbusa, sampai mati nggak bakal didengerin.
Nggapleki, dari kata dasar gaplek, makanan dari ketela. Intinya tentang makian tentang sesuatu yang berarti telo, atau makanan orang desa, bisa juga artinya kampungan.
Nggedebus, artinya omong kosong atau jagoan omong kosong
Nggonduk, artinya sama dengan gondok
Ngobrok, buang air besar (maaf) di celana
Ngoce, minum, tapi lebih dikonotasikan untuk minuman keras
Ngepek, artinya mencontek
Nggendera, artinya ngetop dan kondang abizz
Njembling, artinya buncit. Wetenge njembling= perutnya buncit
Nyebahi, dari kata sebah, artinya menjengkelkan
Mbatik, artinya menyalin dalam hal ini pe er sebelum jam pelajaran mulai
Mbojo, artinya pacaran
NJeplak, artinya asal ngomong
Nyamari, keadaan smar. antara kelihatan dan tidak kelihatan namun membahayakan. konteks membahayakan sangat lekat pada arti kata ini. “Ati-ati nda, lewat dalan kono, tikungan ro tanjakane nyamari…”
Nyetut, berarti mengambil barang orang tanpa ijin
…ok, akhiran untuk menegaskan tentang sesuatu yang telah dilakukan. Misalnya, Aku wis bali ‘ok.
Pak, sapaan khas semarang. singkatan dari Bapak (untuk menghormati teman akrab dan menganggap diri sama-sama dewasa).
Pathang, berarti laki-laki atau cowok
Pemes, artinya pisau silet
Piye jal, bagaimana coba. Bahasa Jawa biasa yang seringkali digunakan orang semarang.
Plinteng, berarti ketapel
Ra mang, bararti Tidak usah –> ramang wedi = taidak usah takut
Rak Wis, menyimpulkan suatu cara yang sebetulnya mudah (mempermudah masalah). Mulih Rak Wis (Pulang aja deh), Diculke rak wis (dilepaskan aja kan beres)
Reka rekae, pura-puranya.
Reti, artionya ngerti (singkatan dari ngerti), ora reti aku.
Rewo-Rewo, Rame-rame… nggruduk… (biasanya untuk konteks seneng-senang, misalnya makan-makan)
RW, Rica Waung, Rica Anjing (wah ini haram banget loh)
Sali, berarti juga kaya
Sangar, berarti menakutkan. Dalam bahasa Indonesia kata ini juga dikenal, tapi disemarang digunakan lebih familiar.
Sebeh semeh, berarti bapak dan ibu
Sebehan, suatu ilmu hitam, lebih berarti jimat…
Semawis, sebutan halus untuk kota Semarang. Istilahnya bahasa krama nya…
Semok, berarti seksi dan montok
Shonji, Mantra, dishonji dimantrai
Singsot, artinya bersiul
Stin, berarti kelereng, Stinan berartio bermainkelereng
Stut, artinya sabuk
Surungan, minuman penghantar makanan (dalam hal ini digunakan para pemabuk untuk minum-minuman keras sebagai surungan/ mendorong makanan mereka yaitu Rica Waung)
Tek ke” , artinya utekke (Utek ke)…, otaknya. Ungkapan terhadap sesuatu yang tidak masuk akal untuk dilakukan.
Tepu, dari kata tipu, artinya omong bohong
Tho Ya… artinya sama dengan “dong” dalam dialek Betawi. Contoh: Sandhale dicopot ta ya… (Sandalnya dilepas dong…)
Tikel, artinya kelipatan. Wis tak bayar tikel telu… ya kudune bakbuk to ya… kok nagih terus… (sudah saya bayar tiga kali lipat, seharusnya impas, kok malah kamu tagih terus)
Undha-undhi, artinya hampir sama. Contoh: Aku karo Cah Katro kae umure undha-undhi (Aku dengan anak Katro itu umurnya hampir sama), bisa juga dipakai dalam hal ‘kemungkinan’, MU karo Arsenal yo undha-undhi ndes…
Waung, artinya adalah anjing (dalam arti binatang yang sesungguhnya), bahasa lainnya yang juga khas adalah wedhus balap,
Wagu, sesuatu yang dianggap nggak oke, dan cenderung katrok. Nah Wagu ini adalah kosa asli dari kata Katrok di Semarang.
Wedhus Balap, lihat waung.
Yisto, Singkatan dari Yo wis to