Lebaran di Srondol — Antara Guyub, Kerabat & Duit

1 Sep

LEBARAN adalah saat yang paling menyenangkan ketika aku kecil.  Karena baju baru dan bayangan dapat uang banyak, selalu muncul. Maklum, kami sepantaran cukup banyak dan kompak keliling dari sodara yang satu ke sodara yang lain untuk sekadar bersalaman dan pulangnya menerima duit untuk “beli permen” katanya ketika itu.

LUCUNYA, aku yang tidak lebaran, selalu disamperin sodara-sodara yang lain untuk mondar-mandir kemana-mana dan kemudian kita saling berhitung berapa banyak yang kita dapat. Hari itu, rasanya kita sudah jadi orang “terkaya sedunia” karena lembaran-lembaran halus uang 500-an ataqu 1000-an yang berjejal di kantong.

Beberapa  kerabat yang kerap keliling bareng aku waktu itu adalah Safuroh, Iin, Rosyid,  Bayu [adekku], Imam, Yuyun, Ida, Aan, Agung, Agus, Nanang. Suasana waktu itu benar-benar guyub  dan menyenangkan. Apakah suasana itu masih ada sampai sekarang ya?

Tag:, , , ,

Lapangan Bola APDN Srondol : Dari 17-an Sampai Tawuran

28 Agu

DULU, Akademi Pemerintahan Dalam Negeri [APDN] disebar di beberapa daerah. Salah satunya Srondol Kulon [atau Semarang] sebagai salah satu kawah candradimukanya. Bukan soal APDN-nya yang ingin aku tulis, tapi soal lapangan sepakbola APDN. Kenapa?

Ketika itu, lapangan sepakbola APDN adalah satu-satunya lapangan besar dan bole digunakan untuk umum. Selain bermain sepakbola kalo sore, beberapa turnamen sepakbola juga diadakan di tempat yang dari rumahku hanya berjarak 1 kilometer ini saja. Selain itu, biasanya lomba 17-an antar RW juga digelar di lapangan ini.

Ada beberapa hal yang aku ingat. Sempat SD-ku bertanding sepakbola dengan SD Srondol III. Ketika itu aku kelas 6 [sekitar tahun 1985-an]. Meski kalah, tapi menyisakan kenangan unik saja. Kemudian juga tawuran sepakbola pernah terjadi. Ketika itu ada Piala Kubota kalau tidak salah, antara Pola Dwipa dan BRI. Ketika salah satu pemain Pola Dwipa yang ternyata orang Srondol dijegal, penonton ’tersinggung’ dan akhirnya ikut main bola. Rusuh!

Ketika APDN dilebur jadi IPDN di Jatinangor Jawa Barat, selesai sudah cerita tentang APDN yang kemudian menjadi Arsip Daerah. Lapangannya? Kini tetap jadi lapangan, tapi sudah tertutup pagar dan tidak boleh sembarangan dipakai. Disekitarnya ada kijang yang dipelihara juga.

Tag:, , ,

KAPLENG – Dulu, Tempat Yang ‘Medeni’ Buat Dolan

27 Agu

DAERAH ini sebenarnya nyaman. Bagaimana tidak, banyak pohon, sejuk dan jauh dari keramaian jalan raya. Tak Cuma itu, daerah ini juga kerap menjadi inceran banyak orang kaya yang ingin beli tanah murah dengan view yang cukup bagus. Tapi itu sekarang, dulu tidak begitu.

DULU Menyebut nama tempatnya, Kapleng –baca dengan gaya Semarangan—artinya bicara tempat yang dekat dengan kuburan, kalo hujan becek, dan jauh dari “peradaban” alias kampung banget. Disana rata-rata tinggal orang yang asli Semarang [dan Srondol].

Aku termasuk sering main ke Kapleng. Karena selain teman sepermainanku banyak, disana cukup memberikan pemandangan indah, khususnya di tempat yang kerap disebut dengan perengan. Tempatnya di pinggir lereng. Aku dan beberapa kawan [Nanang, Witho, Sulis, Inang] sering mencarfi jangkrik atau sekadar maen layangan. Tempatnya luas dan lapang.

Sekarang, Kapleng tidak hanya dijejali penduduk asli, karena pendatang pun tidak sedikit. Banyak rumah bagus dan orang kaya Semarang yang “ngumpet” dengan membangun rumah mewahnya di kampung iitu. Dan tentu saja Kapleng sudah tidak jadi daerah yang “medeni” alias menakutkan lagi.

Tag:, ,

Kamus SEMARANGAN ‘Nda

27 Agu

SETIAP daerah, pasti punya bahasa slank masing-masing. Menariknya, bagi perantauan, bahasa itu akan menjadi menggelikan ketika ketemu dengan kawan satu daerahnya. Di Semarang, ada beberapa bahasa yang terdengar lucu, tapi ngangenin. Dan diakui atau tidak, itulah yang menyatukan rasa “SEMARANGAN” itu. Inilah beberapa diantaranya.

+++

Asem ki, Asem ik :  umpatan tentang sesuatu yang tidak diharapkan

Atis : berarti dingin untuk minuman atau sejuk untuk hawa

Bak-buk: artinya Impas, Aku ngilangke motormu, saiki kowe ngrusaakke laptopku… wis to … bak-buk to. Artinya Aku ngilangin motormu, kamu ngrusak laptop ku ya udah, impas.

Blaik : suatu ungkapan tentang kekagetan

Bentengan:  sejenis permainan kejar-kejaran anak, di daerah lain ada yang bernama jek-jekan

Benthik:  sejenis permainan anak, di daerah lain ada yang menamakannya Pathil Lele

Brom pit : artinya sepeda motor

Congyang: sejenis minuman keras khas Semarang

Ceng ceng po: berarti teman kental

Ciamik: sesuatu yang artinya mirip dengan hebât

Ciak: artinya makan

Ciblek: Cilik-cilik betah Melek, istilah untuk kupu-kupu malam ABG

Coa:  artinya ngomong besar, rasah coa kowe

Coa-Coa:  menggosip, ngomong membesarkan/ menyebarkan isu atau fitnah.

Datsu: sejenis angkutan kota, aslinya merupakan kependeka dari merk kendaraan Daihatsu

Denok: mbak, gadis dewasa

Denyom: berarti perempuan, atau gadis

Gali: artinya preman pasar

Galap: artinya balap, pit galap artinya sepeda balap…

Gentho: Orang yang memegang suatu kawasan.

Genjot, mengayuh, tapi perhatikan konotasi lainnya : digenjot = dipukuli tanpa ampun

Gilo-Gilo, penjual aneka jajanan pasar yang didorong dengan gerobak dorong.

Gondes, berarti Geblek (lebih halus dari goblog), namun konotasinya lebih berarti kepala batu, atau keras kepala, atau ‘yidak bisa dibilangi atau dinasehati’ Secara nasional, akhirnya menjadi akronim dari Gondrong Ndeso.

Gombal Mukiyo, artinya ngomong gombal alias bohong

He eh, Iya atau mengiyakan

…. ik, akhiran yang menegaskan tentang sesuatu, misal: asem, malah lungo ‘ik

Ita-itu, berbuat macam macam… ra mang ita itu kowe= jangan macam-macam

Jes, semacam Toss, khas semarang

Jeng-jeng, artinya jalan-jalan, contoh,wah nek ngono kudu “jeng-jeng” (jalan-jalan) neng nJohar

Jogjig, kendaraan untuk menghaluskan jalan yang sedang diaspal. Bisanya disebut Selender.

Kakeane, artinya semacam makian yang artinya sialan

Kas, Panggilan sapaan akrab

Kecelik, tertipu

Kemaki, artinya sombong, besar kepala

Kemlinthi, artinya tengil, nakal dan nyebelin. Gayane kemlinthi, gayanya tengil

Kempling, mengkilat, seperti baru

Kenang, Mas, Perjaka Dewasa

Kenthip, berarti jauh banget

Klowor, artinya nggak rapih. Biasanya digunakan untuk cara berpakaian.

Kongkow, berarti nongkrong. Bahasa Indonesia juga tapi sangat familiar digunakan orang Semarang

Koplak, berarti goblog atau bodoh (di TVB jadi acara yang singkatannya Komedi asal njeplak — (tambahan dari pak Ahmad, Koplak juga berarti jabatan Koordinator Pelaksana, lihat reply di bawah)

Koya, berarti banyak omong tapi gak berani berbuat seperti yang diomongkan (yah semavam Jarkoni, wani ujar ra wani nglakoni) Kota-kota, berarti jalan-jalan ke kota.

Krenyeh, artinya kualitas rendah untuk suatu barang, bisa disamakan dengan ecek-ecek.

Lheb, berarti hebat dan ok, kadang ditekankan jadi Lheb ghodek

Mbeling, berarti nakal atau bandel. Cah mbeling, arinya bocah nakal.

Mbois, gembagus

Mentu, maksudnya metu (keluar)

Mlencing, berarti mengambil barang orang tanpa bayar

Moci, Minum wedang poci, tapi kalo moci di Simpang 5 bisa punya konotasi negatif

Munggah, suatu sebutan untuk menyatakan tujuan ke kota atas, seperti srondol, ngesrep dan Banyumanik.

Mudun, sebutan orang yang tinggal di Candi, Banyumanik, maupun Srondol yang mau ke kota.

Nas, semacam pause atau time out untuk permainan anak-anak

Nda, sapaan khas semarang, penghalusan dari Ndes

Ndaho, artinya sohor

Ndak Iya, menanyakan ‘Apa iya?’

Ndes, sapaan khas semarang, singkatan dari Gondes

Ndesit, Bentuk halus dari kata umpatan Ndeso. Sebetulnya artinya kampungan atau nggak punya sopan-santun.

NDobol, kurang lebih sama seperti gombal mukiyo, tapi lebih kasar

NDoyong A Jong, Sikap ndoyong yang diperagakan ala Suhu A Jong, jago kungfu jaman dulu dari Semarang.

Ndoyong, sesuatu yang miring atau tidak stabil. Rawan jatuh. Bisa untuk orang (karena mabuk), atau benda.

Ngeleh, sartinya luwe atau lapar

Ngengkrengan, adalah cara orang Semarang untuk menyebut perkiraan biaya. Contoh: Kanggo ngedegake omah aku wis duwe ngengkrengane (Untuk membangun rumah saya sudah punya perkiraan biayanya)

Ngerek, artinya main sinetron silat, Asti Ananta kuwi mulai ngerek jenenge.

Ngentos, artinya menunggu lama sekali. Buah kelapa itu jika sudah tua di dalamnya akan tumbuh biji yang disebut kentos. Ngentos, dari asal kata Kentos. Mbok nganti Ngentos, bis’e ra bakal lewat kene, Wong dalane ditutup. Biar ditunggu sampai lama, bisnya nggak bakal lewat, karena jalannya di tutup.

Nggambus, artinya omong kosong, nggedabrus atau bohong

Nggambleh, artinya ngomong tong kosong tapi sampai berbusa-busa. Lha Mbok nggambleh sak modare ra bakal dirungokne, biar omong sampai berbusa, sampai mati nggak bakal didengerin.

Nggapleki, dari kata dasar gaplek, makanan dari ketela. Intinya tentang makian tentang sesuatu yang berarti telo, atau makanan orang desa, bisa juga artinya kampungan.

Nggedebus, artinya omong kosong atau jagoan omong kosong

Nggonduk, artinya sama dengan gondok

Ngobrok, buang air besar (maaf) di celana

Ngoce, minum, tapi lebih dikonotasikan untuk minuman keras

Ngepek, artinya mencontek

Nggendera, artinya ngetop dan kondang abizz

Njembling, artinya buncit. Wetenge njembling= perutnya buncit

Nyebahi, dari kata sebah, artinya menjengkelkan

Mbatik, artinya menyalin dalam hal ini pe er sebelum jam pelajaran mulai

 Mbojo, artinya pacaran

NJeplak, artinya asal ngomong

Nyamari, keadaan smar. antara kelihatan dan tidak kelihatan namun membahayakan. konteks membahayakan sangat lekat pada arti kata ini. “Ati-ati nda, lewat dalan kono, tikungan ro tanjakane nyamari…”

Nyetut, berarti mengambil barang orang tanpa ijin

…ok, akhiran untuk menegaskan tentang sesuatu yang telah dilakukan. Misalnya, Aku wis bali ‘ok.

Pak, sapaan khas semarang. singkatan dari Bapak (untuk menghormati teman akrab dan menganggap diri sama-sama dewasa).

Pathang, berarti laki-laki atau cowok

Pemes, artinya pisau silet

Piye jal, bagaimana coba. Bahasa Jawa biasa yang seringkali digunakan orang semarang.

Plinteng, berarti ketapel

Ra mang, bararti Tidak usah –> ramang wedi = taidak usah takut

Rak Wis, menyimpulkan suatu cara yang sebetulnya mudah (mempermudah masalah). Mulih Rak Wis (Pulang aja deh), Diculke rak wis (dilepaskan aja kan beres)

Reka rekae, pura-puranya.

Reti, artionya ngerti (singkatan dari ngerti), ora reti aku.

Rewo-Rewo, Rame-rame… nggruduk… (biasanya untuk konteks seneng-senang, misalnya makan-makan)

RW, Rica Waung, Rica Anjing (wah ini haram banget loh)

Sali, berarti juga kaya

Sangar, berarti menakutkan. Dalam bahasa Indonesia kata ini juga dikenal, tapi disemarang digunakan lebih familiar.

Sebeh semeh, berarti bapak dan ibu

Sebehan, suatu ilmu hitam, lebih berarti jimat…

Semawis, sebutan halus untuk kota Semarang. Istilahnya bahasa krama nya…

Semok, berarti seksi dan montok

Shonji, Mantra, dishonji dimantrai

Singsot, artinya bersiul

Stin, berarti kelereng, Stinan berartio bermainkelereng

Stut, artinya sabuk

Surungan, minuman penghantar makanan (dalam hal ini digunakan para pemabuk untuk minum-minuman keras sebagai surungan/ mendorong makanan mereka yaitu Rica Waung)

Tek ke” , artinya utekke (Utek ke)…, otaknya. Ungkapan terhadap sesuatu yang tidak masuk akal untuk dilakukan.

Tepu, dari kata tipu, artinya omong bohong

Tho Ya… artinya sama dengan “dong” dalam dialek Betawi. Contoh: Sandhale dicopot ta ya… (Sandalnya dilepas dong…)

Tikel, artinya kelipatan. Wis tak bayar tikel telu… ya kudune bakbuk to ya… kok nagih terus… (sudah saya bayar tiga kali lipat, seharusnya impas, kok malah kamu tagih terus)

Undha-undhi, artinya hampir sama. Contoh: Aku karo Cah Katro kae umure undha-undhi (Aku dengan anak Katro itu umurnya hampir sama), bisa juga dipakai dalam hal ‘kemungkinan’, MU karo Arsenal yo undha-undhi ndes…

Waung, artinya adalah anjing (dalam arti binatang yang sesungguhnya), bahasa lainnya yang juga khas adalah wedhus balap,

Wagu, sesuatu yang dianggap nggak oke, dan cenderung katrok. Nah Wagu ini adalah kosa asli dari kata Katrok di Semarang.

Wedhus Balap, lihat waung.

Yisto, Singkatan dari Yo wis to

NYADRAN: Saat Warga Srondol Kulon Ngumpul, Tukeran Makanan

27 Agu

NYADRAN. KETIKA aku kecil, sekitar umur 7-8 tahunan. Momen hura-hura bernama ‘NYADRAN’ adalah moment yang kerap aku tunggu. Kenapa? Karena pada saat itu, aku bisa makan apa saja, comot sana-sini dan kemudian main-main dengan teman sekampung yang sepantar. Lalu nyadran itu apa toh?

Biasanya dilakukan menjelang datangnya bulan Ramadhan, kita warga Srondol Kulon menggelar ritual nyadran atau ziarah kubur ke makam para leluhur. Uniknya, semuanya datang ke makan dengan membawa tenongan yang berisi aneka ragam jajanan pasar dan buah-buahan untuk disajikan kepada anak-anak maupun orang dewasa yang ikut ritual ini. Pada pagi hari sekitar pukul 05.00 WIB, warga melakukan bersih-bersih makam. Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan nyadran pada pukul 08.00 WIB. Biasanya dilakukan di Makam di Kapling

Nyadran dilakukan setiap setahun sekali. Selain berdoa secara bersama-sama untuk mendoakan arwah leluhur. Nyadran juga menjadi ajang silaturahmi warga masyarakat. Biasanya setiap kali nyadran, kerabat keluarga dari luar kota berdatangan. Nyadran juga menjadi tempat untuk bersodaqoh, yakni dengan memberikan atau membagikan makanan maupun jajanan pasar kepada para peserta nyadran. Makanan atau jajanan pasar ini dimasukkan dalam wadah tenong.

Setelah nyadran selesai, selanjutnya para warga pun melakukan silaturahmi dengan mengunjungi rumah kerabat maupun sanak saudara. Maka tidak heran, jika pada ritual nyadran ini banyak sekali kerabat dari luar kota yang menyempatkan diri mudik untuk ikut bersilaturahmi.

Jujur, sekarang aku kehilangan momen seperti itu…

Tag:,

1979 – Awalku Sekolah di SD Cakra Madya Dwipa

27 Agu

SRONDOL KULON. Masih sepi ketika itu. Belum sepadat dan se-riweuh sekarang. Aku hanya ingin bercerita masa kecilku. 1979, adalah awal aku masuk SD. Ada beberapa SD yang cukup jadi incaran orangtua untuk anak-anaknya. Tergantung lokasi dan “gengsi” masing-masing sih. Selain karena bicara kualitas pengajar. Masa itu sudah ada pemikiran soal kualitas juga loh.

Ketika itu –tanpa melewati TK—aku awalnya didaftarkan di SD Srondol III di daerah bernama Kapling. Tahun itu, daerah ini tidak bisa disebut bergengsi. Mengapa? Lokasinya menjorok di belakang kampung, kemudian dikelilingi 2 kuburan besar. Tak cuma itu, sekolahan ini masih mengijinkan muridnya “nyeker” alias tidak pake sepatu, di awal sekolah.

Ibuku kenal dengan Kepala Sekolahnya, ibu Martini. Tapi entah mengapa, ketika beberapa minggu akan mulai tahun ajaran baru mulai, tiba-tiba aku dipindahkan ke SD Cakra Madya Dwipa I di kompleks Brimob Srondol Wetan. Tidak lebih jauh, tapi kudu nyeberang jalan raya.

Ketika itu Kepala Sekolahnya adalah Ibu Sukini. SD ini tergolong cukup “bergengsi” karena lahir tahun 1964 dan banyak menelorkan nama-nama yang cukup sukses di banyak profesi. Apakah soal kualitas itu yang jadi pertimbangan orangtuaku? Akhirnya aku menemukan jawabannya. BETUL.

Tag:,

Selamat Lebaran, Selamat Terbebaskan

25 Agu

RITUAL tahunan bernama Idul Fitri itu, akhirnya bakal tiba. Acara mudik –yang konon hanya ada di Indonesia—mulai berdenyut.  Semua rute darat laut udara, ludes demi sebuah ritual bernama lebaran dan mudik.  Semua perputaran uang mulai bergeser ke daerah-daerah tujuan mudik. Tersenyumlah Wonogiri, Solo, Lampung, Jogjakarta, dan sekitarnya. Karena menurut pengamat ekonomi, perputaran uang yang dibawa ketika Lebaran tiba mencapai trilyunan rupiah.

Untuk yang melakukan puasa di Bulan Ramadhan, Idul Fitri menjadi momentum untuk menjadi pemenang. Pelaku puasa itu berhasil melewati banyak hal selama sebulan. Anger Management  yang ketat, toleransi [yang harusnya] makin meningkat, dan urusan syahwat yang diikat. Tidak mutlak, karena toh ada toleransi untuk hal-hal lain yang disetujui. Tapi semua menjadi begitu “kuat” selama sebulan Ramadhan ini.

Saya menikmati Lebaran sebagai proses ‘liminal” –ini istilah yang dikatakan oleh Victor Turner—yang artinya pada momen inilah, agama persis berdiri pada sebuah perbatasan, ia ada di “dalam” tetap sekaligus “di luar” dirinya.  Lebaran kini menjadi “festival” milik sebuah peradaban bernama manusia. Di Indonesia, sulit mengatakan Lebaran hanya milik umat muslim, karena sudah menjadi lintas sosial dari banyak kehidupan manusia.  Lebaran tidak hanya milik mereka yang selama Ramadhan berpuasa penuh, tapi juga milik mereka yang mungkin selama hidupnya tidak pernah berpuasa.  Lebaran sudah tidak lagi milik “kami” tapi lebur menjadi milik “kita”.

Memang, selebrasi maaf makin lama makin menjadi ritual basa-basi dan tanpa makna lagi. Tapi hal yang menarik adalah, Lebaran selalu mempertemukan manusia pada kesetaraan. Selalu menempatkan “kita” pada paradigma yang sejajar. Lebaran menjadi mengharukan, karena momentum ini selalu memperhadapkan emosi, mentalitas [dan ekonomi tentu saja],  pada titik yang disepakati. Tidak menjadi umat yang “terisolasi” tapi umat yang [harusnya] solidaritas.

Raya bernama Lebaran ini memang menyajikan banyak harapan setiap tahunnya. Disana ada melankolisasi, ada denyut konsumerisme, ada pembersihan diri [yang konon, benar-benar fitrah]. Meski denominasinya makin beragam, tafsirnya makin marak, implikasi sosial ekonominya makin dianggap sebagai ‘keberuntungan’ daerah tujuan mudik, Lebaran [harusnya] tak melulu jadi ‘festival sosial’ yang sekadar numpang lewat.

Saya memaknai, Lebaran adalah khittah fresh untuk makin menyapa orang-orang yang menderita, mendermakan kemanusiaan kepada manusia secara setara, mengampuni sebagai satu roh hakiki, dan memberi kegembiraan rohani untuk keluar dari dari tempurung bernama kesombongan. Bukankah hakikat Idul Fitri adalah pembebasan yang utuh, bukan sekedar memaafkan omong kosong?

Selamat Lebaran, Selamat Terbebaskan.

Tag:,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.